Berhenti Berjalan Tanpa Arah Setelah Berjalan Tanpa Tujuan

Berhenti Berjalan Tanpa Arah Setelah Berjalan Tanpa Tujuan

“Hati – hati terhadap hati yang berduri, saat kita dehidrasi bukan berarti kita harus meminum air yang beracun”

Selang beberapa tahun setelah hari kelulusan, kenangan saat masih menduduki bangku sekolah membawaku kembali menapakkan kaki di jalan yang selalu ramai dilewati siswa saat berangkat ke sekolah. Waktu terasa begitu cepat, teringat jelas ditempat itu aku mengenal perasaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya, sebuah rasa yang tak pernah kutahu ujungnya. Rasa itu laksana api yang tak kunjung padam, api yang membakar segala impian dan harapan seorang anak muda yang tengah mencari bekal untuk hari esok.

Berawal saat pulang sekolah, hari itu terasa sangat berat. Kegiatan di sekolah sangat padat, ditambah terik matahari yang menyengat. Ku percepat langkahku pulang, agar dapat segera melepas penat. Sambil berjalan yang kupikirkan hanya cara terbaik untuk melepas penat setelah aku pulang.

“Sepertinya wajah itu tidak asing bagiku, ah mungkin wajahnya saja yang mirip,” gumam ku dalam hati. Sambil terus berjalan kulihat ke arah belakang, wanita itu terus memandangiku sambil berjalan ke arahku.

Setelah lama berjalan akhirnya aku tiba di asrama ku, “Mas, jangan lupa nanti foto copy file materi buat besok,” Ujar temanku  sesampaiku di asrama. Malam itu aku sibuk mempersiapkan file untuk acara sekolah besok. Kudengar bunyi notifikasi handphone terus berdering, kulihat sebuah pesan dari seorang wanita yang kukenal saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar, “Kita dulu pernah ikut latihan bimbel bareng ya? Kamu sekolah disini juga ya? Wah udah lama nggak ketemu,” tulisnya. Setelah kejadian itu, kita tak pernah bosan untuk saling berbalas pesan. Hampir setiap malam, aku selalu menyempatkan waktu berbicara dengannya. Waktu pulang sekolah, kita selalu berpapasan namun tidak saling sapa satu sama lain karena aturan sekolah yang membatasi interaksi laki – laki dan perempuan. Entah kenapa, setiap aku membuka ponsel selalu muncul rasa ingin selalu berbalas pesan dengannya. Rasa itu ada dengan sendirinya, ia tidak dibuat atau diberikan melainkan tumbuh ibarat bunga di lembah tak bertuan. Seiring berjalannya waktu, bukan bosan yang kudapat, justru rasa itu semakin tumbuh dalam diriku. Sempat terbesit dibenakku gambaran akan beberapa kemungkinan yang terjadi.

Sore hari setelah pulang sekolah, hujan mengguyur deras, kunaiki tangga menuju teras gudang lantai tiga, disanalah aku sering menemukan resolusi dari setiap permasalahan atau sekedar melepas bosan. Kusempatkan waktu bertukar kabar dengannya, sambil kupetik senar gitar ukulele pemberian adikku, terlintas dibenakku kata seorang Emha Ainun Nadjib “Cinta bukanlah soal bertahan seberapa lama, tapi seberapa jelas dan kearah mana.” Entah kenapa aku mulai merasa seperti berjalan tanpa tujuan setelah berjalan ke segala arah. Ku putuskan untuk bertanya tentang tujuan, namun hanya arah tak tentu yang ku dapat darinya, “Kita berdua punya masa depan yang perlu kita kejar,” tulisnya kepadaku.

Apa yang ia tulis itu tak sejalan dengan pikiranku akan cinta dan masa depan yang berdampingan. Bukankah seharusnya cinta itu bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis, tetapi cinta itu menguatkan hati dalam perjuangan menempuh duri penghidupan. Sekian lama ku terdiam dalam derasnya hujan, tak sengaja kuinjak gitar pemberian adikku, spontan aku langsung menghancurkannya hingga hancur berserakan, entah kenapa waktu itu yang terlintas dibenakku “Bukankah lebih baik hancur seluruhnya? Daripada hancur sebagian namun tak akan bisa kembali seperti semula,” pikirku sambil memungut serpihan gitar yang berserakan.  

Ku anggap berendam dalam sebuah kolam lebih baik daripada mencari air segar untuk diminum dalam musim kemarau. Ku mencoba meyakinkan diriku bahwa penolakan tak selalu menjadi tanda akhir dari sebuah perjuangan. Yang ada di pikiranku saat itu, justru berjalan tanpa arah hanya akan menghasilkan rasa manis yang membawaku pada kepahitan. Dengan penuh rasa bimbang dalam hati, ku berkata pada diriku sendiri, “Ikuti kata hatimu, mungkin semua itu akan terjawab oleh waktu.” Namun harapan tak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. 

Waktu terus berlalu, sekian lama rasa ini telah menjelma menjadi duri dalam daging. Bukankah cinta itu witing tresno jalaran soko kulino? bukankah cinta itu harusnya membawa bahagia dan menghidupkan pengharapan? Aku sejenak berpikir, apakah semua orang memiliki cukup ruang dalam hatinya untuk cinta?

Dalam sebuah hubungan, ketika salah satu orang memiliki perasaan yang berlebih sedangkan yang satu biasa saja, maka dapat dipastikan bagi yang memiliki perasaan lebih, perasaan itu laksana racun adiktif sekaligus obat yang merusak jiwa. “Tak ku sangka wanita seperti itu dapat membuat luka sesakit ini” pikirku saat itu. Lalu apa dampak dan akar dari semua sakit itu? Entah kenapa rasa sakit yang selalu menyelimuti itu juga menghilangkan segenap semangatku.

Tak terasa sudah terlalu lama aku merenungi masa lalu di jalan yang selalu kulewati dulu, kulihat dari kejauhan seseorang berlari kearahku, “Mas, dari mana aja? Sudah ditunggu bapak dari tadi” tuturnya sambil memegang pundakku. Tak kusangka, mengenang masa lalu membuatku lupa hari ini aku harus mendatangi acara pengajian guruku. Siang itu setelah pulang dari pengajian, aku langsung pamit kepada guruku untuk pulang ke rumah.

Tak banyak yang berubah semenjak terakhir kali aku ditempat ini, berbagai hal telah kualami, banyak kenangan dan pelajaran yang sayang untuk dilupakan. “Pak, tolong antar saya ke terminal,” ucapku sambil menyodorkan dua lembar uang sepuluh ribuan. Tak lupa kuputar lagu favorit ku sambil menaiki becak menuju terminal terdekat, kulihat jam menunjukan pukul empat sore. “Habis dari mana mas?” Tanya sopir becak kepadaku, “Habis dari pertigaan jalan pak,” balas ku asal – asalan. Sesampainya di terminal, aku segera menaiki bis terakhir di terminal pada hari itu. Dalam perjalanan pulang, kucoba membuka kembali percakapan terakhirku dengannya, saat kulihat riwayat pesanku, aku kembali merasakan diriku yang dulu, seperti orang kebingungan mencari arah, “Aku tidak minta apapun kepadamu, kau bilang aku bukanlah beban atau penghalang, tapi kenapa selalu kau bilang kau ingin fokus meraih mimpimu?” Kemudian dibalas olehnya, “Sudah terlalu lama aku banyak mempermainkan perasaan laki – laki, aku berjanji tidak akan lagi mengirim pesan kepadamu,” tulisnya beberapa tahun yang lalu. Meskipun pahit dan hina, setidaknya pesan yang ia tulis dapat membuatku merasa lebih baik untuk sadar bahwa sampai kapanpun tulisan itu lah yang menjadi cerminan dirinya.

Dapat ku simpulkan, cinta yang suci seringkali diakhiri oleh perbedaan memaknai sebuah perasaan, harapan dan tujuan hidup. Setiap alasan atau sebab dari sebuah penolakan seringkali tak dapat dinalar, namun otak dan hati tak pernah berhenti mencoba mengerti, laksana seorang filsuf yang terus mencari kebenaran yang belum terungkap. Dari peristiwa itu, aku belajar agar tidak menyalahkan perasaan dan aku juga sebisa mungkin untuk tidak lagi membuat masa lalu itu terulang kembali di masa depan.

Total
0
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article
Di Tengah Gempuran Circle Pertemanan

Di Tengah Gempuran Circle Pertemanan

Next Article
Pembangunan Infrastruktur Indonesia yang Berperan untuk Meningkatkan Daya Saing

Pembangunan Infrastruktur Indonesia yang Berperan untuk Meningkatkan Daya Saing