Bahasa Malangan, Ciri Khas Orang Malang

Bahasa Malangan, Ciri Khas Orang Malang

Malang merupakan kabupaten yang terletak di Jawa Timur, tepatnya disebelah selatan nya kabupaten jombang dan sebelah baratnya kabupaten lumajang. Bukan hanya besarnya wilayah geografis yang melingkupi setengahnya Provinsi Jawa Timur, tetapi malang memiliki corak kebudayaan yang unik.

Sebuah bahasa merupakan alat komunikasi dan ciri khas didalam sebuah kelompok (Yuwono:2005). Dalam wilayah Pulau Jawa terpecah berbagai bahasa, ada bahasa jawa mataraman, bahasa jawa ngapak, bahasa jawa arekan, bahasa jawa malangan.

Merujuk kepada bahasa malangan atau osob kiwalan, dalam sejarahnya di usulkan oleh Ebes Suyudi Raharno dari kalangan pejuang Gerilya Rakyat Kota (GRK) sebagai bahasa komunikasi antar pejuang.

Baca Juga :
Pentingnya Pendidikan Karakter di Instansi Sekolah
Gejolak Covid-19 Hingga Peraturan Yang Aneh
Kisah Cinta Dewi Banowati dan Arjuna: Kesetiaan atau Pengkhianatan?

Tujuannya sebagai bahasa sandi untuk membedakan mana pejuang dan pendukungnya dan mana musuh. Perkiraan munculnya sekitar tahun1949 untuk menghalau strategi Belanda yang banyak menyusupkan mata-mata ke kalangan pejuang untuk memburu pejuang pendukung Mayor Hamid Rusdi.

Bahasa ini tidak memiliki aturan yang baku meskipun kebanyakan orang banyak memformulasikan sebagai ‘bahasa walikan’ meskipun kenyataannya tidak semua kata berasal kata yang dibalik dan semua kata bisa di balik.

Berbeda dengan bahasa walikan pada umumnya yang juga di punyai oleh darah-daerah lain,  Osob Kiwalan (Boso Walikan khas AREMA) memiliki keunikan tersendiri, jadi tidak asal balik. Bahasa khas Malang ini merupakan bahasa gabungan dari bahasa Jawa, Indonesia, Arab, Madura dan Cina. Jadi kata-kata yang digunakan adalah hasil kesepakatan pada saat itu. Sangat unik dan khas Malang, itulah yang membuat Boso Malangan berbeda dengan bahasa walikan dari daerah lain.

Baca Juga :
Melihat Perjalanan Kurikulum Pendidikan Indonesia

Guru bukan dewa yang selalu benar, murid bukan kerbau
Anak Muda Suka Wayang Orang? Mengapa Tidak?

Pada perkembangannya bahasa yang tidak memiliki aturan baku ini berkembang dengan sendirinya sebagai bahasa komunikasi atau bahasa pergaulan antar genaro malang (orang malang) ketika ia berada di luar kota atau pun di luar negeri. Perkembangan dari boso walikan ini pun tidak stagnant mengingat ada kata-kata baru yang dulu tidak termuat dalam Boso Malangan yang asli tadi. Namun, bukan berarti kata-kata baru bisa ditambahkan atau dimunculkan dengan seenaknya.

Kata-kata tersebut juga muncul dari tradisi atau kata-kata yang umum di ucapkan dalam pergaulan. Bagaimanapun juga asal mula munculnya kosakata walikan yang baru masih tetap sama, kata wallikan harus enak di ucapkan dan diterima oleh masyarakat sebagai bahasa pergaulan.

Baca Juga :
Marsinah, Pejuang Sejati, Meski Mati tapi Abadi
Mengenang Didi Kempot dan Musik Campursari
Edge of Democracy, Kekuasaan dan Pembangunan

Berikut kata-kata yang lazim di ucapkan oleh kera-kera Ngalam plus kosakata khas Malang yang muncul dalam pergaulan dan dialeknya.

Adapes – sepeda
Amalatok – Kotalama
Asaib – biasa
Asrob – minum
Amrin – pacar
Aramaut – Mertua
Atret – mundur
Ayas – saya
Imbelak – Kelambi
Kanyab tulum – banyak omong
Lawet – Jual
Mengong – gila, bloon
Ngesop – Pusing
Orip – berapa
Uklam-uklam – jalan-jalan
Wanyik – orang

Menarik bukan? Malang tak hanya khas kepada sektor pariwisata nya saja, akan tetapi malang juga khas dengan kebudayaan nya, terutama bahasa malangan atau osob kiwalan. Sangat menarik untuk dipelajari untuk menambah wawasan kebudayaan dan merawat ingatan terkait dengan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Total
1
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article
Gejolak Covid-19 Hingga Peraturan Yang Aneh

Gejolak Covid-19 Hingga Peraturan Yang Aneh

Next Article
Membaca Khazanah Pemikiran Cak Nur

Membaca Khazanah Pemikiran Cak Nur