Sex Pistol, Musik Sebagai alat Perlawanan

Tahun 1970 merupakan sejarah baru bagi masyarakat Inggris. Sebab ditahun tersebut munculah band yang bernama Sex Pistol, dengan personil, Johnny Rotten – vocals, Steve Jones – guitar, Glen Matlock – bass, Paul Cook – drums, Sid Vicious – bass. Sebuah Keyakinan tersendiri untuk sepak terjang nya di dunia musik.
Sex Pistol, Musik Sebagai alat Perlawanan

Tahun 1970 merupakan sejarah baru bagi masyarakat Inggris. Sebab ditahun tersebut munculah band yang bernama Sex Pistol, dengan personil, Johnny Rotten – vocals, Steve Jones – guitar, Glen Matlock – bass, Paul Cook – drums, Sid Vicious – bass. Sebuah Keyakinan tersendiri untuk sepak terjang nya di dunia musik.

Punk tidak sekedar nama tetapi juga genre musik dan gaya hidup, karena itu musik memiliki ideologis nya. Iya punk memilki D.I.Y (Do It Yourself) yang bebas, merdeka tak mengikuti pemerintah ataupun kapitalisme.
Kecenderungan pemikiran yang merdeka adalah jati diri sebagai punk, yang memiliki tingkat kesadaran yang berbeda dengan masyarakat pada umum nya.

Baca Juga :
Dilema Mahasiswa UMM, Antara SPP dan Kenyataan

Sex Pistols adalah band yang penuh kontroversi. Lagu-lagunya yang berlirik tajam menyinggung tentang kebijakan dalam industri musik, kebusukan para politisi, kekerasan, konsumerisme, anarki sampai fasisme itu berjalan beriringan dengan keliaran prilaku para personilnya yang kerap melahirkan banyak kerusuhan dan kekacauan. Bisa dikatakan lebih banyak kekacauan yang mereka buat daripada musik itu sendiri. Persis seperti apa yang Steve Jones ucapkan, “We’re not into music, we’re into chaos”.

Salah satu kekacauan yang sangat memorable adalah ketika dengan heroiknya mereka membawakan nomor “God Save The Queen” yang baru saja rilis, di atas sebuah boat yang mengambang di sungai Thames ketika peringatan Silver Jubilee Ratu Elizabeth II. Peristiwa ini membuat pihak berwenang harus menahan mereka, dan melarang lagu tersebut untuk di putar di semua radio. Alih-alih turun pamor, hal itu justru membuat mereka lebih digandrungi.

Sang bassist awal, Glen Matlock yang digadang-gadang sebagai satu-satunya orang yang mengerti musik akhirnya memutuskan hengkang karena konflik internal. Ada gosip yang beredar bahwa Matlock tidak disukai oleh teman-temannya karena ke-Beatles-Beatlesan, datang dari keluarga menengah dan terlalu kalem. Entah mana yang benar. Posisinya lalu digantikan oleh bassist yang tak pandai memainkan alat musik betot satu itu. Ya, Sid Vicious, yang sebelumnya kerap dijuluki sebagai personil kelima Sex Pistols karena selalu ada dimana band itu berada akhirnya dapat tebar pesona dalam band yang ia idolakan itu. Mantan pemain drum “Siouxie and The Banshees” itu terkenal memiliki prilaku yang buruk dan menggemari obat-obatan.

Baca Juga :
Mengenang Didi Kempot dan Musik Campursari 

Seburuk-buruknya tiga personil lainnya, Vicious lah yang paling buruk. Namun tabiat buruknya malah membangun sebuah karisma tersendiri dalam dirinya yang membuat banyak penggemar mendewakannya. Meskipun permaianan bassnya sangat buruk sehingga memaksa Jones untuk bermain gitar sekaligus bass untuk nomor-nomor di album mereka namun tak membuat sang manajer dan personil lainnya gusar. Karena bagaimana pun juga Vicious, sang pencipta tarian pogo itu sangat berperan dalam melambungkan band ini dengan perilakunya yang sangat aduhai, baik di atas maupun di bawah panggung. Liar, jorok, semau gue, dan senang memberontak, semuanya ada dalam dirinya dan hal itu menjadi semacam daya tarik bagi para remaja yang tengah gandrung-gandrungnya pada kebebasan


Total
1
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article
Membaca Orang Maiyah, Karya Cak Nun

Membaca Orang Maiyah, Karya Cak Nun

Next Article
Edge of Democracy, Kekuasaan dan Pembangunan

Edge of Democracy, Kekuasaan dan Pembangunan