Ada Apa, Dengan Mahasiswa Gondrong di UMM?

Ya begitulah nasib mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Memang ini sulit tapi mau bagaimana lagi.
Ada Apa, Dengan Mahasiswa Gondrong di UMM?

Rambut merupakan sebuah gaya atau style pada setiap manusia. Beberapa Universitas seperti UGM, UNAIR, DLL. Tidak pernah ada aturan pelarangan rambut, jika pun ada itu hanya aturan dari individu dosen. Beberapa kampus di Indonesia seperti Universitas Pamulang dan Universitas Muhammadiyah Malang, dengan tegas didalam aturan nya melarang mahasiswa berambut gondrong.

Jika di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gondrong dilarang dengan dasar. SK Rektor Nomer 5 Tahun 2007, tentang larangan berambut gondrong bagi mahasiswanya.

Kami melakukan analisa kuisioner yang kami berikan kepada mahasiswa terkait gondrong dan tanggapan dari mereka, pada (01/06/2021). Ada 367 mahasiswa yang menanggapi, terkait keluhan nya ketika memiliki rambut gondrong. Diantara angka 367 presentase keluhan hanya 80% dibandingkan yang tidak suka kepada rambut gondrong hanya 20%.

Baca Juga :
Hentikan Budidaya Sawit yang Merusak dan Pulihkan Ekosistem di Malang Selatan

Ada 2 keluhan yang kami soroti dan menurut kami ini yang begitu menyeramkan secara represifitas.

Seorang mahasiswa jurusan teknik sipil yang berinisial AP mengatakan, “Berambut gondrong tidak hanya dilarang secara biasa, melainkan saya dilarang secara administrasi dan fasilitas perkuliahan”

Lalu mahasiswa jurusan menejement berinisial J menambahkan, “Berambut gondrong di UMM, cukup menguras mental. Karena pihak kampus membangun stiqma untuk mengklaim bahwa gondrong itu nakal, ijka di umm”. Tutupnya.


Pelarangan Gondrong Menciderai asas Reformasi

Pelarangan rambut gondrong dan pembatasan politik, membuat para pemuda yang berada di berbagai wilayah di Indonesia memberontak dan melawan. Mereka menentang kebijakan dilarang gondrong yang ditetapkan pemerintah Orde Baru.

Awalnya pada tahun 1970, banyak anak muda Indonesia yang berambut gondrong. Hal ini seiring dengan ditetapkannya politik pintu terbuka yang membuka akses seluas-luasnya dengan budaya Barat.

Namun naas mereka tetap kena razia. Saking seriusnya larangan rambut gondrong saat itu, pemerintah membentuk Bakorperagon atau Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong.

Baca juga :
Argopuro Yang Tak bisa Pura – pura

Bakorperagon beroperasi di berbagai sudut kota dan daerah di Indonesia. Petugas dari Bakorperagon kerap merazia anak muda yang berambut gondrong.

Kembali ke era Orde Baru, menurut Aria Wiratma Yudhistira (2010: 144),  razia rambut gondrong pertama kali digelar pada tanggal 8 Desember 1966 di depan stasiun Tanah Abang Jakarta.

Tidak seperti razia pada lazimnya yang memeriksa surat-surat kendaraan bermotor, razia ini menyisir rambut anak-anak muda yang bergaya layaknya grup band legendaris asal Inggris “The Beatles”.

Sejarah rambut gondrong mencatat, tak hanya di ibukota, razia juga berlangsung hingga ke kota-kota besar lainnya seperti Bandung, Yogyakarta, Medan, dan Surabaya.

Anak-anak muda yang kedapatan berambut gondrong atau memakai pakaian yang tidak sesuai dengan “kepribadian bangsa” akan mendapatkan tindakan “potong di tempat” baik rambut maupun pakaiannya.

Baca Juga :
Tampilan Rambut Gondrong Khas Ala Mahasiswa

Di Bandung misalnya, sejak akhir Desember 1966, petugas razia yang terdiri dari kesatuan-kesatuan ABRI melakukan penertiban terhadap mode Beatles yang sedang populer kala itu.

Alhasil sekitar 150 remaja yang kebanyakan anak orang kaya terjaring dalam operasi. Razia tersebut menurut petugas kala itu merupakan operasi paling berhasil dibandingkan dengan operasi-operasi sebelumnya.

Begitulah sejarah rambut gondrong yang pernah dilarang pada era pemerintah Orde Baru yang mungkin jarang diketahui publik. (Erik/R7/HR-Online)

Pelarangan Rambut Gondrong Menciderai Asas Kemanusiaan

Dibuku Andi Achdian dalam pengantarnya buku “Dilarang Gondrong: Prakti Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970-an” (2010: vii), menyebut bahwa kebijakan yang melarang rambut gondrong bagi pemuda pria pernah ditayangkan di TVRI pada tanggal 1 Oktober 1973.

Selain itu, Pangkopkamtib Jenderal Soemitro juga mengumumkan kebijakan itu dalam sebuah acara televisi berjudul “Bincang-bincang di TVRI”.

Soemitro menyatakan bahwa fenomena rambut gondrong pada pemuda dapat memnyebabkan keadaan onvershillig alias acuh tak acuh yang dapat memancing dan meningkatnya angka kriminalitas di Indonesia.

Baca Juga :
Dilarang Berambut Gondrong 

Sejarah rambut gondrong berlanjut ketika ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) menanggapi larangan rambut gondrong dengan serius.

Misalnya di Sumatera Utara, para pemuda yang berambut gondrong diperlakukan layaknya penyakit yang berbahaya.

Gubernur Marah Halim akhirnya membentuk sebuah badan khusus yang bertugas memberantas rambut gondrong. Badan tersebut diberi nama “Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong” atau disingkat menjadi (Bakorperagon).

Adapun Andi Achdian menambahkan, badan tersebut diketuai oleh kepala Direktorat Khusus Kantor Gubernur Sumatera Utara dan beranggotakan pejabat-pejabat daerah tingkat I ditambah dengan wakil kwartir daerah Pramuka propinsi Sumatera Utara.

Total
1
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Press Release, Aksi Menolak Sawit di Malang

Next Article

Dua Jam, Bersama Pak Sumali Wonogoro Malang