UMM Kampus Islami Terbaik, Antara Kenyataan dan Rekayasa

Aneh rasanya jadi mahasiswa dikampus islam terbaik. Ya entah mengapa, tapi ini sungguh sangat membanggongkan.

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara resmi di nobatkan sebagai Kampus Islami Terbaik Di Dunia tahun 2021 versi uniRank https://www.4icu.org/top-religious-universities/islamic/, mengalahkan Iran University of Science and Technology yang menempati peringkat ke-2, dan Cairo University yang ada di peringkat ke-3. Tak hanya itu, dalam artikel tersebut juga menyebutkan bahwa institusi Pendidikan tinggi Muhammadyah lainnya, juga masuk ke dalam daftar 10 besar. Diantaranya adalah Universitas Muhammadyah Yogyakarta yang berhasil menempati posisi ke-4, dan Universitas Muhammadyah Surakarta pada posisi ke-8. Melalui serangkaian penilaian, institusi-institusi tersebut berhasil mendapatkan sebuah pencapaian yang gemilang.

Baca Juga : Merajut Kesehatan Indonesia, Cabut Omnibus Law

Kabar ini tentunya menjadi sebuah berita menggembirakan bagi warga Muhammadyah khususnya, dan masyarakat Indonesia umumnya. Melansir kumparan.com, ketua umum pengurus pusat (PP) Muhammadyah Haedar Nashir menanggapi berita tersebut dengan mengucap syukur, serta memberikan apresiasi tinggi kepada segenap civitas akademika dan lembaga terkait, atas pencapaian yang luar biasa ini Haedar Nashir mengaku bangga dengan prestasi yang ditorehkan oleh UMM. Beliau juga mempertegas pernyataannya lewat akun twitter pribadinya di @HaedarNs dengan mengatakan: “Alhamdulillah sungguh menggembirakan menerima pengumuman “The 2021 uniRank: Universities Ranking of The Top Islamic Universities in the World”. Dari urutan sepuluh besar berhasil UMM menempati nomor satu atau teratas, disusul nomor empat UMY, dan UMS pada urutan kedelapan”.

Sebagai warga muhammadyah, khususnya mahasiswa Universitas Muhammadyah Malang, saya turut berbangga diri dengan pencapaian kampus tercinta. Sebagai momentum perayaan, ada baiknya prestasi ini tidak hanya sekadar dijadikan seremonial dalam bersuka-cita, namun juga momentum kebangkitan dan evaluasi bersama atas kinerja warga, dan universitas.

Sekadar mengingatkan

Meskipun dalam nuansa sukacita, seyogyanya kampus beserta segala elemennya, tetap bermawas diri dan tidak lupa akan cita-cita mulia yang telah di usungnya. Memiliki fungsi sebagai center of knowledge, perlu direfleksikan kembali bahwa jantung dari Universitas adalah kebebasan akademik, dan kebebasan akademik musti difasilitasi oleh Universitas. Kebebasan tersebut dapat berupa kritik, diskusi dengan rekan/pihak dari luar kampus, hingga dialog dengan jajaran petinggi kampus membahas isu-isu sosial di dalam dan luar kampus. Ruang-ruang demokratis di kampus harus tetap dipelihara, dan dibuka selebar-lebarnya. Terbuka artinya menyoal segala bentuk informasi akademik, dan administratif, yang musti diajaga komunikasi nya secara asertif, dan efektif. Terbuka pula kemudian kampus untuk di kritik. Semakin banyak suara-suara kritis, semakin banyak lontaran-lontaran kritik, maka ia juga menunjukkan kualitas iklim demokrasi yang baik dan sehat bagi kampus itu sendiri.

Baca Juga : Jejak Sejarah Hingga Perkara, Pakel Banyuwangi

Sehubungan dengan kritik, masih hangat dalam ingatan, kala mahasiswa UMM melangsungkan aksi menyoal tidak adanya potongan UKT semester kala pandemi Dalam aksisnya mahasiswa mendesak kampus mengeluarkan kebijakan memotong 50 persen uang kuliah atau SPP, yang sempat tayang di kompas.tv pada (16/02) atau dua hari yang lalu. Pasca audiensi dan aksi yang dilakukan mahasiswa, pihak kampus dengan berat hati enggan mengaminkan tuntutan karena satu dan lain hal yang belum sempat dijelaskan. Memang, menyoal pandemi yang juga tak kunjung berkesudahan, membuat banyak orang terdampak baik secara psikologis, maupun finansial, tak terkecuali bapak/ibu yang terhormat.

Namun ada baiknya pula, apabila kampus memberikan informasi terbuka, terkait transparansi alokasi dana SPP para mahasiswanya, dengan rasional dan transparan. Misalnya, alokasi dana pada item her-registrasi digunakan sebagai biaya penunjang fasilitas perkuliahan dalam jaringan, agar bisa meng-cover seluruh kebutuhan jaringan mahasiswanya (misalnya). Kemudian, alokasi dana pada item SPP digunakan sebagai 50% gaji dosen, staff, dan karyawan, 50% digunakan sebagai biaya maintenance atau pemeliharaan dan atau perawatan fasilitas kampus yang menunjang proses pembelajaran (misalnya). Dengan begitu, meski tuntutan belum dapat diaminkan, paling tidak mahasiswa diberi keterangan yang jelas, komunikatif, dan tentunya transparan.

Kemudian permasalahan lainnya juga terletak pada kesinambungan komunikasi antara mahasiswa yang menyangkut dengan informasi akademik dan administratif. Sistem informasi akademik (SIAKAD) seharusnya bisa berjalan dan diakses dengan baik oleh tiap-tiap mahasiswa. Banyak kasus dimana mahasiswa malah bermasalah dengan nilai yang tak kunjung keluar di kartu hasil studi (KHS) mereka sekalipun telah terbebas dari tanggungan yang mengikat. Menanggapi hal itu, pihak terkait seolah-olah tidak bisa diajak bekerjasama dengan kooperatif dalam merespon kebutuhan mahasiswa. Dimulai dari layanan hotlines biro pengelola akademik, maupun administratif, yang sangat sulit untuk di hubungi, hingga dosen-dosen cuek, dan tak ringan hati.

Seharusnya, fungsi layanan hotlines itu memfasilitasi, mewadahi, dan melayani kebutuhan-kebutuhan mahasiswa, terutama saat proses entry nilai. Segala bentuk regulasi harus adaptif dengan situasi dan kondisi yang berlangsung saat ini. Sebagai contoh, apabila ada mahasiswa yang ingin mengajukan keringanan, dispensasi pembayaran, dan kebetulan sedang berada di luar Malang, seharusnya disediakan form elektronik yang dapat di akses dengan mudah. Kemudian, layanan hotlines mereka juga harus dibedakan berdasarkan fungsinya.

Misalnya nomor ini untuk menerima panggilan dengan pengaduan jenis A, nomor ini untuk pengaduan jenis B, dan nomor ini untuk menerima panggilan mahasiswa yang sedang di luar kota (misalnya), dan seterusnya. Inovasi ini tentu juga menguntungkan admin-admin pengelola biro akademik dan administratif universitas, hingga mereka tidak perlu lagi kewalahan diterror ribuan mahasiswa yang berkepentingan. Pun juga bagus bagi inovasi sistem informasi akademik (SIAKAD) kampus itu sendiri, tandanya ia telah adaptif dan berkembang. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Alih-alih menerapkan sistem informasi akademik yang berkemajuan, mahasiswa justru malah mendapat pembekuan pesan. Banyak mahasiswa mengeluhkan respon layanan call-center ini dengan negatif, yang tentu sangatlah disayangkan.

Belum lagi perilaku, dan respon dosen yang memegang jabatan penting, yang tega membiarkan mahasiswanya menunggu update informasi selama berhari-hari. Seharusnya sekretaris jurusan, ataupun dosen mata kuliah melayani mahasiswanya dengan sepenuh hati. Pun juga tidak ada catatan bahwa mahasiswa yang bersangkutan bermasalah dengan performanya selama pembelajaran. Sekalipun ia bermasalah, tidak seharusnya itu dijadikan alasan untuk tidak dilayani, apalagi dianggap mahasiswa yang bermasalah. Sementara, prosedurnya sudah berjalan sedemikian rupa dimulai dari konfirmasi ke dosen pengampu-sekretaris prodi-dan biro pengelola akademik.

Yang menjadi ironi adalah, mahasiswa yang memiliki tanggungan administratif, ditahan terlebih dahulu nilainya sebelum menunaikan tanggungan. Pun setelah selesai, nilai juga tak kunjung keluar. Mahasiswa sudah menghubungi dosen dan pihak terkait, tetapi respon yang mereka dapati tidak begitu baik. Saya sendiri mengalami hal serupa, dan sedang dalam ikhtiar menemukan jalan yang paling terang. Nilai yang tertahan, dan belum diperbaiki oleh yang berwenang, padahal waktu pemrograman mata kuliah semakin dekat, dan ancaman tertundanya kelulusan. Ancaman tersebut tidak terjadi karena kelalaian, melainkan kesalahan input nilai yang bagi saya sangatlah meresahkan.

Jika ketiga komponen tersebut secara murni dan konsekuen kompak tidak melayani mahasiswa dengan baik, lantas apa yang mau diharapkan dari perilaku akademik yang tidak kooperatif, demokratis, dan apatis seperti ini. Yang demikian jelas tidak baik bagi kondisi psikologis kampus dan mahasiswa itu sendiri, lebih jauh lagi menciderai nilai-nilai dan prinsip kebebasan akademik.

Kembali di titik nol

Melalui momen membahagiakan ini, kita tentunya tidak ingin dibuat terlena oleh pencapaian, dan minim perbaikan. Sebagaimana opini populer berkata “mempertahankan lebih sulit, daripada memenangkan/mencapai sebuah capaian”. Dengan adanya pencapaian ini, tentu dapat dijadikan refleksi dengan mengenolkan diri, kembali ke titik awal, dan mulai memperbaiki apa yang seharusnya di perbaiki. Universitas Muhammadyah Malang memang memiliki beragam pencapaian, baik di skala nasional, maupun regional. Tentu, wajah inilah yang ingin selalu kita tampilkan. Bukan wajah-wajah miring, yang beredar di kalangan warga yang suara-suaranya tidak sempat terdengar.

Sebagai langkah awal, ada baiknya pihak universitas mencoba mengembalikan marwah kampus sebagai pusat keilmuan, dan tempat beradunya gagasan, diprakarsai melalui terbukanya ruang-ruang publik yang tentunya demokratis. Dan bisa jadi mungkin, dengan adanya pencapaian ini, ditengah-tengah momentum yang berbahagia ini, kampus berubah pikiran dan ingin mempertimbangkan dengan matang-matang, mengenai suara-suara mahasiswa yang kemarin turun ke jalan. Siapa tahu?  

Roh dan tugas Pendidikan tinggi adalah untuk memeriksa, mengevaluasi, nilai-nilai atau norma yang berjalan yang mana ia dirasa tidak sesuai dengan kondisi yang ideal. Dewasa ini, kita temui banyak kasus-kasus yang menciderai etika, tradisi, dan prinsip akademik. Kita tentunya tidak ingin menjadi salah satu bagian dari wajah kusam kampus https://video.tempo.co/read/23279/opini-tempo-wajah-kusam-kampus yang menodai nilai-nilai luhur tersebut.

Dalam hal ini, mahasiswa termasuk instrumen pemeriksa, evaluator, dan pengawas dari nilai dan norma akademik itu sendiri. Maka sudah sepantasnya, kampus tidak memandang sebelah mata, dan mengabaikan kami begitu saja. Kampus bukanlah tempat kursus, yang hanya mengajarkan materi dan fungsi, tetapi kampus adalah tempat diujinya demokrasi. Dengan demikian, menjadi penting kiranya agar segenap civitas akademika di UMM, untuk kemudian bersama-sama menjadikan momen kebahagiaan ini, menjadi momentum kebangkitan dengan mengenolkan diri lagi, sehingga terwujud cita-cita tri darma perguruan tinggi yang ideal, dan kampus putih yang berkemajuan.

Total
1
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Indonesia Dalam Pusaran Krisis Lingkungan dan Demokrasi

Next Article

Dilema Mahasiswa UMM, Antara SPP dan Kenyataan