Perjalanan Argopuro, Tak Sekedar Mendaki Gunung

Perjalananku diawali dengan berkumpul di stasiun senen, kali ini aku ikut SC Backpacker Jakarta dengan total keseluruhan ada 19 orang termasuk CP. Peserta dari RT, CLUB Maupun Non RT, Sampai diStasiun Pasar Senen Sudah ada yang sampai  lebih awal kira – kira jam 13.00 WIB . Sesuai jadwal, kereta kita berangkat jam 14.00 Wib  siang . Didepan dunkin sudah ada Vincent, Anty, Sifa,Deden, Haris, kiting  sama om Galuh , dan disebrang ada  Firman (Bule), Om Topan, Gufron, Abi  serta ada Natalie yang datengnya agak telat karena cari pita buat tanda persimpangan selama perjalanan nanti di Argopuro, dan 5 peserta lagi meeting point di Pasar Turi Surabaya yaitu muamar sama rifki (dipanggil mas bojo karena dari Bojonegoro ) dan extend dari Ranukumbolo ada Afri, Kuple sama Ramdhan

Baca Juga : Midah, Antara Ketabahan dan Kehidupan

Setelah pembagian tiket kereta yang terlebih dulu diprint sama bule kita semua masuk ke gerbong  dan keretapun tepat jam 14.00 Wib Jalan. Oia dihari sebelumnya salah satu dari kami yaitu sifa mungkin orang yang paling panik di group WA karena KTP  Elektrik dia hilang entah nyelip dimana atau factor lupa, Temen –temenpun menyarankan menggunakan identitas lain seperti  SIM, Pasport ataupun kartu pelajar.

Perlu diingat Berdarsarkan informasi dari Customer Service PT KAI, sebenarnya ada kartu identitas lain yang bisa digunakan calon penumpang sebagai pengganti KTP saat boarding di stasiun kereta api. Yaitu Paspor, SIM, Buku nikah, Kartu mahasiswa. Kartu karyawan, Kartu pelajar, Kartu keanggotaan, Ijazah terakhir, Maupun identitas lain yang berfoto dan masih berlaku.

Keretapun melaju,dari Jakarta (pasar senen ) 14.00 Wib  – Surabaya (Pasar Turi ) 03.00 Wib, Setelah sampai diSurabaya rombongan menuju bus yang sudah menunggu didapan stasiun Pasar Turi. Setalah semua tas dimasukan ke dalam bus sekitar jam 04.00 Wib pagi bus menuju Situbondo. Sebelum sampai Bascemp Baderan  terlebih dulu kita mampir di pasar tradisional Besuki untuk membeli Logistik Selama pendakian nanti, dipasar ini kita bersih – bersih Kemudian keliling pasar untuk membeli Sop – sop pan, Telur, Sosis, Beras serta bumbu dapur. Selesai belanja kita langsung serbu warung makan sederhana untuk mengisi perut keroncongan, saya sendiri pilih menu Rawon, kerupuk sama teh hangat, ada yang sarapan P[cel, Gule dan yang pasti enggak ada yang sarapan mie instan disini. Ada beberapa yang membukus nasi buat makan malem, karena rencannya hari ini enggak masak nasi. Setalah kenyang dan perut aman kita dianter menuju basecamp Baderan. Setelah sampai dibasecamp kita packing ulang, pembagian logistic serta barang- bareng yang enggak perlu dibawa naik dititipin dibus.

Baca Juga : Infografis, Kartini

Jalur Baderan ini adalah jalur yang sangat panjang. Perjalanan awal kita membutuhkan waktu 4 jam dengan jalan kaki untuk mulai masuk kawasan hutan. Namun ada alternatif lain yakni dengan naik ojek. Hanya butuh kurang lebih 40 menit  saja.

Setelah selesai mengurus simaksi serta packing ulang kita dari basecamp naik ojek menuju pintu masuk hutan / Makadam dengan biaya 40 ribu / orang. Sebenernya buat yang enggak punya waktu banyak bisa naik ojek sampai Cikasur dengan biaya 250 / orang dengan waktu tempuh 4 jam.

Tapi dengan track seperti itu kamu musti rasain sendiri sensasinya ya,, hehhehe (enggak kebayang)

Oia pas dari basecamp ke makadam ada cerita lucu, salah satu peserta argopuro namanya Amien, Dia Memiliki berat badan 110 kg naik ojek dibonceng belakang depannya ada keril, entahlah gumam mamang ojeknya apa, yang pasti sampai baderan ban motornya langsung bocor dan  akhirnya biaya ojek 40 ribu ditambahin lagi sama  Amien 10 ribu buat  tambal ban.

Track antara basecamp sampai makadam dominan batu  ukuranya sempit sekitar 1 meter dan sebelah kanan jalan rata- rata jurang.

Lokasi : Pos Makadam

Setelah semua naik sampai Makadam Pukul 11.30 WIB kita mulai pendakian dan seperti biasa kita abadikan moment dulu.

Sebenernya  Ini formasi belum lengkap karena 3 temen lagi yaitu afri, kuple, sama ramdhan yang sehari sebelumnya nganter SC ke Ranukumbolo masih dalam perjalanan menuju basecamp. Setelah berjalan beberapa ratus meter muamar sudah enggak sanggup untuk melanjutkan kemudian diantar Natalie sama kiting ke pos Makadam dan ditelfonkan ojek untuk menjemput dia. Memang dari rumah sudah dalam kondisi sakit karena sayang udah cuti 5 hari buat naik ke argopuro berharap kondisinya membaik setelah di basecamp ,makanya dia coba sampai makadam terlebih dahulu. Mungkin dia tau kondisi fisikinya kuat apa enggak dan dia akhirnya memutuskan balik lagi ke basecamp dan istirahat di basecamp (Belum rejeki)  pukul 13.00 kita sudah  sampai pintu masuk hutan, buat semua sudah satu rombongan termasuk Natalie sama kiting. dari Makadam ke Pos Mata Air 1 selanjutnya jalanan dominan tanah, agak licin, bekas ban motor sangat merpotkan kaki dan ilalang menjulang tinggi. Pada perjalanan ini harap selalu hati-hati karena banyak tumbuhan gatal.

Pada pukul 17.00 kita sampai Di Pos Mata Air 1 dan mendirikan tenda untuk bermalam. Kita bagi – bagi tugas, ada yang mendirikan tenda, masak, sholat, ambil air dsb. Setelah makan malam selesai kita ketenda masing – masing sampai pagi

Hari ke 2 Seperti biasa kita masak untuk sarapan dan makan siang karena perjalanan dari Pos Mata Air 1- Mata air II – Cikasur lumayan panjang, pada sekitar pukul 08.00 3 orang lagi yang dari Rakum sampai disini afri, kuple sama ramdan dan pas banget selesai bikin sarapan (Beruntung Mereka).

Lokasi : Pos Mata Air 1

Pada pukul 09.20 kita menuju cikasur  Perjalanan menuju Cikasur adalah perjalanan yang akan sangat menyenangkan Kita akan berjalan melewati sabana yang luas. ketemu hutan lalu sabana lalu hutan lalu sabana lagi sampai beberapa kali dan track dominan landai tapi panjang.

Lokasi : Dari Mata Air 2 – Cikasur

Kita Sampai cikasur pukul 17.00 WIB. Di Cikasur kita bisa leluasa mendirikan tenda untuk bermalam kebanyakan dibawah pohon iconik cikasur. Disini juga ada sumber air yang melimpah. Mungkin 200 meter dari area camp cikasur terdapat sebuah sungai yang mengharuskan melepas sepatu buat melewatinya.

Lokasi : Sungai dicikasur

Disungai ini banyak tumbuhan selada air (jangan lupa bawa bumbu pecel) yang biasa dimanfaatkan warga maupun para pendaki buat nambahin logistik. Selesai mendirikan tenda ada yang mandi (ingat mandi digunung jangan make bahan kimia seperti sabun dsb ), sholat, ambil selada air, ambil air, pasang lampu kemudian kami masak bareng – bareng. Setelah makan aku putusnya buat mengambil bebrapa foto suasana malam dicikasur

Lokasi : Malam DiCikasur

Mungkin malam itu bisa ngefoto milky way andai saja enggak ada bulan tetepi bulan lagi bulat – bulatnya, alhasil begini jadinya.

Setelah selesai saya bernajak ketenda karena sudah  enggak kuat sama dinginya. Temen-temen masih pada ngobrol ditenda, dan seperti biasa yang dibahas yang horor – horror sambil adu kenceng suara kentut dengan aroma khas masing – masing

Mungkin kalau diingat pada Zaman Kolonial Cikasur itu punya cerita pilu

Dicikasur ada bekas sebuah landasan pesawat terbang, bukti lain cikasur dulunya adalah landasan pesawat terbang adalah sebuah mesin genset yang terdapat disalah satu sudut landasan pesawat, sudah tertutup oleh ilalang dan tersembunyi semak belukar. Di badan genset tampak tulisan 1912 sebagai petunjuk masanya. 

Dalam pembangunannya dulu landasan ini dikerjakan oleh beberapa orang dengan upah yang sedikit. Lalu pekerja itu dipaksa mengajak penduduk lainnya untuk mengajak membantu pembangunan landasan terbang tersebut.

Akhirnya orang tua, anak muda, laki-laki dan perempuan ikut dalam pembangunan lapangan terbang tersebut, tentunya tanpa upah serta perlakuan kasar 

setelah lapangan terbang jadi, mereka semua tidak boleh meninggalkan tempat tersebut, mereke disuruh membuat lubang yang besar untuk saluran air, setelah saluran air jadi, langsung mereka semua diperintahkan berdiri di depan saluran air tersebut, barulah serdadu Belanda memberondong peluru kearah mereka dan menguburnya di saluran air itu. agar para pekerja tidak membocorkan lokasi landasan kepada para pejuang

Pada hari Ketiga pagi – pagi bangun langsung ambil kamera buat berburu foto Sunrise dan berharap ada merak. Suasana masih sangat dingin, mungkin suhu saat itu minus soalnya embunpun jadi es

Lokasi : Embun Es cikasur

Setelah selesai berburu foto ada beberapa yang masak dan bongkar tenda serta mengeringkan baju, flysheet dan beberapa sepatu yang basah. Pada pukul 11.00 wib. Kami semua selesai makan, packing dan siap – siap untuk jalan menuju CiSentor, rencana mau camp di Sabana Lonceng

Lokasi : Sabana Cikasur

Jalan menuju Cisentor landai, nanjak dan turunan dan musti berhati – hati karna banyak pohon jancuan (jelatang) dan sebelah kiri setelah sabana sebelum turunan arah Cisentor jurang musti focus dan exstra hati – hati

Cisentor merupakan  percabangan atau pertemuan jalur Baderan dan Bremi. Di sini ada sebuah bangunan berpetak yang bisa kita gunakan untuk istirahat.

Sampai cisentor kita pukul 16.00. sebelum pos ada sebuah sungai harus nyebrang lewat batu – batu kalau kepleset dikit bisa nyebur, terbukti 3 orang diantara kami Yaitu  Natalie, Deden (tukang kentut) dan rifki (mas bojo) nyebur dan akhirnya sepatu basah semua.

Lokasi : Sunggai Cisentor

Dicisentor kita makan, sholat. Setelah selesai kita melanjutkan ke Rawa Embik sekitar 2 jam perjalanan kira – kira sampai pukul 18.15Wib  dan dipastikan kita camp di rawa embik.  jalanan dominan menanjak dan melewati hutan. Sesampai di Rawa Embik sudah gelap kita langsung mendirikan tenda. Ada kejadian yang kurang mengenakan disini temen kita Anti kelelahan dan hampir pinsan. Untung temen – temen sumua langsung gerak cepat buat bikin yang minuman hangat. Setelah digantiin baju sama Natalie sambil terus diajak ngobrol biar tetep sadar akhirnya membaik.

Baca Juga :
Gunung Argopuro, Trek Pendakian yang Panjang di Pulau Jawa

Ada beberapa temen membuatkan Sup, ada yang masak mie, bikin minuman hangat. Setelah selesai makan kita masuk tenda. Tapi kali ini tenda 8 yang diisi Cuma 6 karena pertama biar tetep hangat kedua biar enggak terjadi yang aneh – aneh , di Rawa Embik ini sebenernya enggak begitu rekomendasi buat camp karena disini tempat minum binatang.

Banyak cerita agak bahaya camping di rawa embik. Karena banyak babi hutan dan mamalia malam yang berkeliaran disini, maklum karena dekat dengan sumber mata air mungkin. Hari ke 4 Pukul 09.15 Setalah packing, sarapan dan masak untuk makan siang selesai kita melanjutkan ke Sabana lonceng.

Lokasi : Rawa Embik

Jalanan Rawa embik – Sabana lonceng dominan pepohonan dan semak belukar ditempuh kira – kira 2 jam

Lokasi : Tracking Rawa Embik Menuju Sabana Lonceng

Sesampai di Sabana Lonceng kita taro keril dan menuju ke Tiga Puncak Yaitu  Puncak Rengganis, Puncak Argopuro dan Puncak Arca

Lokasi : Sabana Lonceng

Yang pertama kita tuju yaitu puncak Rengganis. Dari sabana Lonceng kira – kira Cuma 15 menit untuk sampai puncak

Kami selesai dengan 3 puncak itu kemudian kami turun melalui puncak hyang menuju Sabana lonceng, sedikit kebingungan pas turun dari puncak hyang, karena ada dua jalan harusnya ambil yang arah kiri malah pilih yang lurus kebawah arah jalan ke Bremi. Setelah mencari – mencari kami ketemu yang ke arah Sabana lonceng, sesampai disana kita terlebih dahulu makan nasi yang kita masak di Rawa Embik.

Baca Juga :
Pendakian Gunung Argopuro 3.088 mdpl via Baderan – Bremi 

Pada pukul 14.00 kita melanjutkan perjalanan ke arah Taman Hidup kira- kira 5-6 jam lagi tapi sebelumnya harus melewati Cemoro limo.

Dari sabana lonceng ke Cemoro limo didominasi pepohonan dan semak belukar, jalananan menurun agak sedikit licin. Dan sebelum kecemoro limo mungkin 500 m ada tanjakan.

Lokasi : Cemoro Limo

Sesampai cemoro limo pukul  17.00 WIB. Disini kita mempersiapkan Headlamp ataupun Lampu. Dari Cemoro Limo ke Taman Hidup kira – kira 3-4 jam lagi, Jalanan turun terus dan banyak akar, kanan jalanan jurang terjal pas di Hutan Lumutnya jadi harus hati – hati

Lokasi : Hutan Lumut

Kami sampai Ditaman Hidup kira – kira pukul 21.00,  kami pasang tenda di area camp Taman hidup, Setelah selesai pasang tenda kemudian masak, makan, dan aktifitas bebas.

Kami Natalie, Bule, Sifa, Deden, Vincent, Haris dan saya sendiri mainan kartu sampai jam 00.15, hukumannya siapa yang kalah dicoret make lipstick. Setelah lelah kamipun masuk tenda masing untuk beristirahat.

Pada Hari kelima dan hari terakhir pendakian Gunung Argopuro banyak kita habiskan di Danau taman hidup

Lokasi : Danau Taman Hidup

Disini lagi ada kejadian lucu yang bikin sakit perut, Natalie dan kiting aktornya. Mereka berdua mau bikin foto – foto ala- ala yoga yang biar dibilang romantis, dengan posisi kiting dibawah buat ngangkat Natalie yang diatas, karena bobot kiting kayak anak SD yang belum disunat alhasil pada saat ngangkat Natalie dia tersungkur dan yang kena lumpur hidungnya duluan.

Setelah Kehabisan Pose ditaman hidup kita masak, Menghabiskan semua sisa- sisa logistik yang kita bawa , ini mungkin makan yang paling besar dari pada 4 hari sebelumnya, ada rendang, Abon, bakwan, kerupuk, kentang, mie goring, kornet, lavonte, teri kacang, dan beberapa yang lupa disebutkan.

Lokasi : Tempat Camp Danau Taman Hidup

Kami selesai makan, packing, memebersikan sampah untuk dibawa turun.  Track selanjutnya Dimulai Pada pukul 13.00 Siang. Dari Taman Hidup Menuju Bascampe Bermi membutuhkan waktu 3-4 Jam dan tracking nanjak dikit lalu turun terus. Dominasi Hutan Pinus kemudian Hutan Karet dan terakhir kebun warga Bermi.

Sesampai Bermi Kami Menginap di basecamp Pak Ipin. Selanjutnya tujuan utama dari basecamp yaitu kamar mandi , Untuk  bersih – bersih (5 Hari enggak mandi), Makan (perbaikan gizi).

Baca Juga :
Berkenalan dengan Argopuro, Trek Terpanjang Se-Jawa

Pada hari berikutnya kita dari basecamp menuju Surabaya pada pukul 14.00 WIB,  kemudian kita mampir beli oleh – oleh di Pasar Genteng Surabaya sekaligus makan malam. Kereta berangkat pada pukul 21.00 dan sampai Jakarta pada pukul 08.40 Wib dan balik ke rumah masing –  masing.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Asri Tak Selaras

Next Article

Siasat Tembakau Dari Cinta dan Kawan